Rabu, 24 April 2013

PERANAN GURU DALAM MEMBERIKAN MOTIVASI PEMBELAJARAN


PERANAN GURU DALAM MEMBERIKAN MOTIVASI PEMBELAJARAN





OLEH :
Muhammad sauqi alwafa (A1E312581)

Kementerian Pendidikan Nasional
Universitas Lambung mangkurat
Fakultas keguruan dan Ilmu Pendididkan 
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Banjar baru 2012





KATA PENGANTAR
“ Bismillahirrahmanirrahim “
      Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa,karena atas kehendak dan  karunia-NYA jualah kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul peranan guru dalam memberikan motivasi pembelajaran  dengan dosen pembimbing bapak Drs.Ali Rahman,M.Pd
      Pada kesempatan dan  waktu yang telah di sediakan,tidak lupa kami ucapkan terima kasih  kepada pihak-pihak yang turut serta dalam kelancaran pembuatan makalah ini.
      Semoga dengan adanya makalah ini dapat berguna untuk kita semua ,dan mohon maaf jika ada kesalahan  dalam penulisan makalah ini.









Penulis






i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                    ................................................................................... i
Daftar Isi                                              ................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN        
        1.1 Latar Belakang                       .................................................................................. iii
        1.2 Rumusan Masalah                  ................................................................................... iv
1.3 Tujuan Makalah                     ................................................................................... iv
BAB II PEMBAHASAN
       2.1 Peran Guru dalam Pembelajaran        ..................................................................... 1
       2.2 Masalah yang Muncul                        ..................................................................... 2
       2.3  Motivasi Guru dalam pembelajaran  ..................................................................... 3-6
       2.4 Guru, Siswa, Serta Motivasi Pembelajaran    ......................................................... 7
BAB  III  PENUTUP            
3.1  Kesimpulan                            .................................................................................. v 
3.2  Saran                                      .................................................................................. v               
BAB IV DAFTAR PUSTAKA        











ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Istilah guru pada saat ini mengalami penciutan makna. Guru adalah orang yang mengajar di sekolah. Orang yang bertindak seperti guru seandainya dia berada di suatu lembaga kursus atau pelatihan tidak disebut guru, tetapi tutor atau pelatih. Padahal mereka itu tetap saja bertindak seperti guru. Mengajarkan hal-hal baru pada peserta didik.
Terlepas dari penciutan makna, peran guru dari dulu sampai sekarang tetap sangat diperlukan. Dialah yang membantu manusia untuk menemukan siapa dirinya, ke mana manusia akan pergi dan apa yang harus manusia lakukan di dunia. Manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya memerlukan bantuan orang lain, sejak lahir sampai meninggal. Orang tua mendaftarkan anaknya ke sekolah dengan harapan guru dapat mendidiknya menjadi manusia yang dapat berkembang optimal.
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individu, karena antara satu perserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Mungkin kita masih ingat ketika masih duduk di kelas I SD, gurulah yang pertama kali membantu memegang pensil untuk menulis, ia memegang satu persatu tangan siswanya dan membantu menulis secara benar. Guru pula yang memberi dorongan agar peserta didik berani berbuat benar, dan membiasakan mereka untuk bertanggungjawab terhadap setiap perbuatannya. Guru juga bertindak bagai pembantu ketika ada peserta didik yang buang air kecil, atau muntah di kelas, bahkan ketika ada yang buang air besar di celana. Guru-lah yang menggendong peserta didik ketika jatuh atau berkelahi dengan temannya, menjadi perawat, dan lain-lain yang sangat menuntut kesabaran, kreatifitas dan profesionalisme.
Memahami uraian di atas, betapa besar jasa guru dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan para peserta didik. Mereka memiliki peran dan fungsi dalam memberikan motivasi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan Negara dan bangsa.
iii
1.2  Rumusan Masalah
            Bagaimana cara atau metode seorang guru dalam memberikan motivasi kepada anak didiknya? Dan bagaimana pentingnya peranan seorang guru dalam memberikan motivasi pembelajaran kepada anak didiknya?
1.3  Maksud dan Tujuan
Laporan Tugas ini mempunyai maksud dan tujuan untuk   :
1.      Mengetahui latar belakang peranan dan fungsi seorang guru dalam memberikan motivasi kepadapeserta didiknya.
2.       Memenuhi Tugas yang diberikan  oleh Dosen  Drs. Ali Rahman,M.Pd
3.       Memberikan gambaran kepada kita (calon guru) kedepannya nanti agar mengetahui peran dan fungsi guru dalam memberikan motivasi kepada peserta didik kita.












iv
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Peran Guru dalam pembelajaran
Seorang Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, professional dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai :
1. Orang tua, yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2. Teman, tempat mengadu dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai       minat,kemampuan,dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6. Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreativitas.
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan.
Demikian beberapa peran yang harus dijalani seorang guru dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh para siswanya.





2
2.2  Masalah yang muncul
Saat ini permasalahan yang menimpa bidang pendidikan sangat beragam dan tergolong berat. Mulai dari sarana dan prasarana pendidikan, tenaga pengajar yang kurang, serta tenaga pengajar yang belum kompeten. Kondisi sekolah yang memprihatinkan, ruang kelas bocor bila hujan dan sebagian sekolah ambruk. Maka tidaklah aneh kalau kondisi pendidikan kita jauh dari harapan.
Salah satu permasalahan yang menimpa dunia pendidikan adalah kompetensi guru. Guru yang harusnya memiliki kompetensi sesuai ketentuan dan kebutuhan, nyatanya hanya sedikit yang masuk kategori tersebut. Sisanya sungguh memprihatinkan. Program sertifikasi guru yang sekarang sedang digalakkan adalah salah satu bagian dari usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Tidak hanya itu, derasnya informasi serta cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas utama guru yang disebut “mengajar”. Masih perlukah guru mengajar di kelas seorang diri, menginformasikan, menjelaskan dan menerangkan? Permasalahan lain adalah kesiapan guru untuk mengikuti perkembangan tersebut. Seorang guru dituntut harus serba tahu bila tidak tahu guru harus berkata jujur “Saya tidak tahu”. Namun kalau terlalu sering guru berkata demikian alangkah naifnya guru tersebut. Seyogyanya dia terus mencari tahu, belajar terus sepanjang hayat, memanfaatkan teknologi yang ada.
Dalam proses pembelajaran, guru dituntut untuk dapat membentuk kompetensi dan kualitas pribadi anak didiknya. Untuk mencapai hal demikian timbul pertanyaan, sebenarnya apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru sehingga anak didik bisa berkembang optimal?
Beragam pertanyaan tadi seraya mengharuskan seorang guru atau calon guru dapat memiliki motivasi diri. Bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk semua pihak baik intern maupun ekstern. Apalagi dalam proses pengajaran hal itu sangat penting untuk memompa dan mengarahkan anak didik dalam pengembangan dirinya, harus ke arah manakah ia? Atau harus bagaimanakah ia? Dengan memiliki motivasi diri seorang guru akan lebih mudah menyampaikan apa saja materi yang disampaikan karena sebelumnya peserta didik sudah memiliki pandangan langkah dari proses motivasi guru tersebut.


3
2.3  Motivasi Guru dalam Pembelajaran
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus mampu membangkitkan motivasi belajar peserta didik.
Teori Motivasi dari Maslow.
Kebutuhan dasar yang dikatakan Maslow sebagai bertata jenjang (hierarki) dilukiskan seperti di bawah ini.
·         Kebutuhan untuk aktualisasi diri
·         Kebutuhan untuk dihargai
·         Kebutuhan untuk diakui
·         Kebutuhan akan rasa aman
·         Kebutuhan psikologis
Dalam Hubungannya dengan peningkatan pembelajaran, teori Maslaw ini dapat digunakan sebagai pegangan untuk melihat dan mengerti mengapa:
a.       Peserta didik yang lapar, sakit atau kondisi fisiknya tidak baik tidak memiliki gairah untuk belajar.
b.      Peserta didik lebih senang dalam suasana yang menyenangkan.
c.       Peserta didik yang merasa disenangi, diterima oleh teman atau kelompoknya akan memiliki minat belajar yang lebih dibanding peserta didik yang dikucilkan atau di abaikan.
d.      Keinginan peserta didik satu dengan yang lainnya untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu sama.
Peran motivasi guru:
1.      Membangkitkan Nafsu belajar
Berdasarkan teori motivasi di atas terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatkan nafsu belajar peserta didik. Antara lain:
a.       Peserta didik akan lebih giat belajar apabila topik yang dipelajarinya menarik, dan berguna bagi dirinya.

4
b.      Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka mengetahui tujuan pembelajarannya.
c.       Peserta didik harus selalu diberitahu tentang kompetensi dan hasil belajarnya, agar ada perubahan dalam proses belajar yang mereka lakukan.
d.      Pemberian pujian dan hadiah lebih baik dari pada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan untuk membentuk jiwa dan kedisiplinan diri.
e.       Manfaatkan sikap, cita-cita, rasa ingin tahu, dan ambisi peserta didik.
f.       Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual peserta didik.
g.      Usahakan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik tersebut.
Dede suryadi mengemukakan ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar dapat membangkitkan motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1)      Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
2)      Membangkitkan minat siswa
3)      Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
4)      Memberi pujian yang wajar terhadap keberhasilan siswa
5)      Memberikan penilaian yang positif
6)      Memberi komentar tentang hasil kerja siswa
7)      Menciptakan persaingan dan kerjasama
2.    Sebagai Pemacu
Sebagai pemacu belajar guru harus mampu melipat andakan kemampuan peserta didik dan mengembangkan sesuai dengan aspirasi dan cita-cita mereka. Guru harus memahami bahwa setiap orang memerlukan bantuan orang lain dalam perkembangannya tidak terkecuali peserta didik yang memerlukan bantuan.
Guru jua harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi semua peserta didik, agar dapat mengembangan potensinya secara optimal. Dalam hal ini guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut:
a)      Orang tua yang penuh kasih sayang pada anak  didiknya.
b)      Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
c)      Fasilisator yang selalu memberikan kemudahan dan melayani peserta didik sesuai minat, kemauan, dan bakat.
d)     Memberikan sumbangan pikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan sulusi pemecahan.
5
e)      Memupuk rasa percaya diri, berani, dan tanggung jawab.
f)       Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
g)      Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain dan lingkungannya.
h)      Mengembangkan kreatifitas.
i)        Menjadi pembantu ketika diperlukan.
3.    Sebagai Pemberi Inspirasi
Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi peserta didik, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan ide-ide baru.
Untuk itu guru harus mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik, agar dapat memberikan inspirasi, membangkitkan nafsu, gairah dan semangat belajar. Iklim belajar yang kondusif merupakan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses belajar. Lingkungan yang kondusif antara lain dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut:
a.       Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran.
b.      Memberikan pembelajaran remedial bagi peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah.
c.       Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal.
d.      Menciptakan kerjasama saling menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru dan pengelola pembelajaran lain.
e.       Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran.
f.       Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator, dan sebagai sumber belajar.
g.      Mengembangkan sistem evaluasi belajar dan pembelajaran  yang menekankan pada evaluasi diri sendiri.

6
Sebagai pemberi inspirasi, guru juga dapat memerankan dirinya sebagai pembawa ceritera. Dengan ceritera-ceritera yang menarik diharapkan dapat membangkitkan berbagai inspirasi peserta didik.
            Sebagai pendengar, peserta didik dapat mengidentifikasi watak-watak pelaku yang ada dalam ceritera, dapat secara objektif menganalisa, menilai manusia, kejadian-kejadian dan pikiran-pikiran.
























7
2.4  Guru, Siswa, Serta Motivasi dalam Pembelajaran
Motivasi belajar yang tinggi dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan motivasi belajar perlu memperhatikan beberapa hal, yakni:
A.      Faktor internal, yaitu kondisi (situasi) yang ada di dalam diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatannya, keamanannya, ketentramannya, siswa dapat belajar dengan baik apabila kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yakni:

(1)   Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan jasmani manusia misalnya,(2) kebutuhan akan makan, minum, tidur, istirahat dan kesehatan,(3) Kebutuhan akan keamanan. Manusia membutuhkan ketentraman dan keamanan jiwa ,(4) Kebutuhan akan kebersamaan dan cinta. Manusia dalam hidup membutuhkan kasih sayang dari orang tua, saudara dan teman-teman yang lain, (5). Kebutuhan akan status (misalnya keinginan akan keberhasilan), (6) Kebutuhan self actualization. Belajar yang efektif dapat diciptakan(7) ntuk memenuhi kebutuhan sendiri, image seseorang, (8) Kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti yaiyu kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu, mendapatkan pengetahuan, informasi, dan untuk mengerti sesuatu, (9) Kebutuhan estetik yaitu kebutuhan yang dimanifestasikan sebagai kebutuhan akan ketentraman, keseimbangan dan kelengkapan dari suau tindakan.
B.      Faktor Eksternal, yaitu kondisi yang ada diluar diri pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan, serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Untuk dapat belajar yang efektif diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya: ruang belajar harus bersih,ruangan cukup terang,cukup sarana yang diperlukan untuk belajar.Dalam belajar memerlukan pula keterampilan-keterampilan tertentu yaitu   persiapan, sikap reseptif, penyesuaian terhadap guru, meningkatkan daya konsetrasi belajar:
1)   Persiapan bila dikaji mata pelajaran dengan persiapan yang baik, maka hasilnya akan efektif.
2)   Memiliki sifat reseptif, hal yang kecil tetapi penting diingat ialah usaha memperoleh suasana hati yang wajar guna mendengarkan dan belajar. Bila anda suka duduk pada tempat tertentu dalam kelas pilihlah sesuai hati. Bila ada bahan-bahan tertentu yang harus di bawa ke dalam kelas, disiapkan lebih dini sehingga dapat terhindar dari kejengkelan di kelas karena kurang siap. Berusaha untuk selalu mempersiapkan alat tulis menulis. Bila siswa memasuki kelas yang telah diatur sebelumnya, bersikap resefif dan tidak bersikap menyerang, dengan memperhatikan mata pelajaran dan cara penyajiannya. Bersikap reseptif berarti menerima keadaan dari pihak yang dihadapi sebagaimana adanya, keadaan atau pihak yang tidak disetujui, nanti ditanggapi atau dikritik pada waktu dan tempat yang telah ditentukan sesuai aturan yang berlaku. Proses belajar yang efektif akan dicapai kalau mendengarkan secara efektif.
8
3)   Penyajiannnya terhadap guru, yaitu bila guru tergolong rendah suaranya dan siswa mengalami kesulitan mendengarkannya, amak pada saat itu senantiasa mencoba mencari tempat duduk yang dekat pada guru, sekalipun tidak mungkin seluruh kelas mendapat tempat duduk pada barisan depan.Meningkatkan daya konsentrasi belajar, yaitu hubungan antar mata pelajaran dapat diperluas, mungkin dapat dipusatkan kepada salah satu pusat minat, sehingga siswa yang memperoleh pengetahuan secara luas dan mendalam. Siswa melihat pula hubungan pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Perencanaan bersama guru dan siswa membangkitkan minat siswa untuk belajar. Di dalam konsentrasi pelajaran banyak mengandung situasi yang problematik, sehingga dengan metode pemecahan soal siswa yang terlatih memecahkan soal sendiri. Pelajaran yang saling berhubungan merupakan suatu kesatuan pelajaran yang bulat, tidak terpisah-pisahkan. Pertumbuhan siswa dapat berkembang dengan baik, siswa tidak merasa dipaksa untuk belajar membaca, berhitung dan sebagainya. Usaha konsentrasi pelajaran menyebabkan siswa memperoleh pengalaman langsung, mengamati sendiri, meneliti sendiri untuk menyusun dan menyimpulkan pengetahuan itu sendiri. Dalam situasi belajar siswa nampak pula kelompok sosialisasi, pada proses belajar siswa melatih bekerjasama dalam kelompok berdiskusi. Mereka bertanggung jawab bersama dalam proses memecahkan masalah. Timbulnya pertanyaan, saran dan komentar mendorong mereka untuk berpikir lebih lanjut, dan berusaha memperbaiki kekurangannya. Selanjutnya fasilitas sosial. seseorang akan lebih baik melakukan tugasnya bila ia melakukannya dalam kelompok dengan orang-orang yang bersamaan tugasnya. Bekerja secara kelompok semacam itu, timbul kecenderungan mencapai kecepatan belajar yang lebih besar, menimbulkan kesungguhan bekerja, dan menghasilkan ketelitian bekerja. Jadi guru tidak perlu memberi suatu dorongan yang dibutuhkan siswa, tetapi berikanlah masalah dan berikan cara untuk pemecahan masalahnya.
Selanjutnya kelompok demokratis. Anggota kelompok yang diorganisir dan diatur dengan cara-cara demokratis akan memperlihatkan cara dan hasil belajar yang lebih baik. Kita mendapatkan situasi belajar yang sebaik-baiknya, bila kelompok manusia yang sedang belajar dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu berdasarkan inisiatif dan kehendak sendiri, menerima tanggungjawab bersama, dan ketua kelompok akan bersikap objektif, menunjukkan penghargaan terhadap manusia dan individu, serta kehadirannya untuk melihat apakah semua berjalan lancer dan membantu pelaksanaan pekerjaan yang sedang berjalan, situasi kelas yang demokratis merupakan unsur yang amat penting dalam organisasi belajar realistis, demi hasil-hasil belajar autentik. Klasifikasi penggunaan sosialisasi yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu: Pola sosialnya ditandai oleh sikap menyerah, fungsi kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan, Secara khusus mempunyai ciri pada sumbangan anggota kelompok member saran-saran, Kerjasama fungsi kelompok melaksanakan usaha bersama sampai selesai. Jadi pelaksanaan sosialisasi yang penting harus dijalankan ialah perencanaan kooperatif, karena semamgat kerja yang lebih baik dan menyadari tentang tanggung jawab bersama, dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik secara individual maupun secara kelompok.



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar