PERANAN GURU DALAM MEMBERIKAN MOTIVASI PEMBELAJARAN
OLEH :
Muhammad sauqi alwafa (A1E312581)
Kementerian Pendidikan Nasional
Universitas Lambung mangkurat
Fakultas keguruan dan Ilmu
Pendididkan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Banjar baru 2012
KATA PENGANTAR
“ Bismillahirrahmanirrahim “
Segala puji syukur kami panjatkan kepada
Tuhan yang Maha Esa,karena atas kehendak dan
karunia-NYA jualah kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
peranan guru dalam memberikan motivasi pembelajaran dengan dosen pembimbing bapak Drs.Ali
Rahman,M.Pd
Pada kesempatan dan waktu yang telah di sediakan,tidak lupa kami
ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang turut serta dalam kelancaran pembuatan makalah ini.
Semoga dengan adanya makalah ini dapat
berguna untuk kita semua ,dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan makalah ini.
Penulis
i
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ...................................................................................
i
Daftar
Isi ...................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................................................
iii
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................
iv
1.3
Tujuan Makalah ...................................................................................
iv
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Peran Guru dalam Pembelajaran .....................................................................
1
2.2 Masalah yang Muncul .....................................................................
2
2.3 Motivasi Guru dalam pembelajaran .....................................................................
3-6
2.4 Guru, Siswa, Serta Motivasi
Pembelajaran .........................................................
7
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................
v
3.2 Saran ..................................................................................
v
BAB IV DAFTAR
PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Istilah guru pada saat ini mengalami penciutan makna. Guru adalah orang yang mengajar di sekolah. Orang yang
bertindak seperti guru seandainya dia berada di suatu lembaga kursus atau
pelatihan tidak disebut guru, tetapi tutor atau pelatih. Padahal mereka itu
tetap saja bertindak seperti guru. Mengajarkan hal-hal baru pada peserta didik.
Terlepas dari penciutan makna, peran guru dari dulu
sampai sekarang tetap sangat diperlukan. Dialah yang membantu manusia untuk
menemukan siapa dirinya, ke mana manusia akan pergi dan apa yang harus manusia
lakukan di dunia. Manusia adalah makhluk lemah, yang dalam perkembangannya
memerlukan bantuan orang lain, sejak lahir sampai meninggal. Orang tua
mendaftarkan anaknya ke sekolah dengan harapan guru dapat mendidiknya menjadi
manusia yang dapat berkembang optimal.
Minat, bakat, kemampuan, dan potensi-potensi yang
dimiliki peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru.
Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individu, karena
antara satu perserta didik dengan yang lain memiliki perbedaan yang sangat
mendasar. Mungkin kita masih ingat ketika masih duduk di kelas I SD, gurulah
yang pertama kali membantu memegang pensil untuk menulis, ia memegang satu
persatu tangan siswanya dan membantu menulis secara benar. Guru pula yang
memberi dorongan agar peserta didik berani berbuat benar, dan membiasakan
mereka untuk bertanggungjawab terhadap setiap perbuatannya. Guru juga bertindak
bagai pembantu ketika ada peserta didik yang buang air kecil, atau muntah di
kelas, bahkan ketika ada yang buang air besar di celana. Guru-lah yang
menggendong peserta didik ketika jatuh atau berkelahi dengan temannya, menjadi
perawat, dan lain-lain yang sangat menuntut kesabaran, kreatifitas dan
profesionalisme.
Memahami uraian di atas, betapa besar jasa guru dalam membantu pertumbuhan
dan perkembangan para peserta didik. Mereka memiliki peran dan fungsi dalam
memberikan motivasi yang sangat penting dalam
membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya
manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan Negara dan bangsa.
iii
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara atau metode seorang guru dalam memberikan motivasi kepada
anak didiknya? Dan bagaimana pentingnya peranan seorang guru dalam memberikan
motivasi pembelajaran kepada anak didiknya?
1.3 Maksud dan Tujuan
Laporan Tugas ini mempunyai
maksud dan tujuan untuk :
1. Mengetahui
latar belakang peranan dan fungsi seorang guru dalam memberikan motivasi
kepadapeserta didiknya.
2. Memenuhi Tugas yang diberikan oleh Dosen Drs. Ali Rahman,M.Pd
3. Memberikan gambaran kepada kita (calon guru)
kedepannya nanti agar mengetahui peran dan fungsi guru dalam memberikan motivasi kepada
peserta didik kita.
iv
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Peran Guru dalam pembelajaran
Seorang Guru harus berpacu dalam
pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik,
agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Dalam hal ini, guru harus
kreatif, professional dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai :
1. Orang tua, yang penuh kasih sayang pada
peserta didiknya.
2. Teman, tempat
mengadu dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3. Fasilitator, yang selalu siap
memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat,kemampuan,dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran
kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan
memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani
dan bertanggung jawab.
6. Membiasakan peserta didik untuk
saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
7. Mengembangkan proses sosialisasi
yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreativitas.
9. Menjadi pembantu ketika
diperlukan.
Demikian
beberapa peran yang harus dijalani seorang guru dalam mengoptimalkan potensi
yang dimiliki oleh para siswanya.
2
2.2 Masalah yang muncul
Saat ini permasalahan yang menimpa bidang pendidikan sangat beragam dan
tergolong berat. Mulai dari sarana dan prasarana pendidikan, tenaga pengajar
yang kurang, serta tenaga pengajar yang belum kompeten. Kondisi sekolah yang
memprihatinkan, ruang kelas bocor bila hujan dan sebagian sekolah ambruk. Maka
tidaklah aneh kalau kondisi pendidikan kita jauh dari harapan.
Salah satu permasalahan yang menimpa dunia pendidikan adalah kompetensi
guru. Guru yang harusnya memiliki kompetensi sesuai ketentuan dan kebutuhan,
nyatanya hanya sedikit yang masuk kategori tersebut. Sisanya sungguh
memprihatinkan. Program sertifikasi guru yang sekarang sedang digalakkan adalah
salah satu bagian dari usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan
di Indonesia.
Tidak hanya
itu, derasnya informasi serta cepatnya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas
utama guru yang disebut “mengajar”. Masih perlukah guru mengajar di kelas
seorang diri, menginformasikan, menjelaskan dan menerangkan? Permasalahan lain
adalah kesiapan guru untuk mengikuti perkembangan tersebut. Seorang guru
dituntut harus serba tahu bila tidak tahu guru harus berkata jujur “Saya tidak
tahu”. Namun kalau terlalu sering guru berkata demikian alangkah naifnya guru
tersebut. Seyogyanya dia terus mencari tahu, belajar terus sepanjang hayat,
memanfaatkan teknologi yang ada.
Dalam proses pembelajaran, guru dituntut untuk dapat membentuk kompetensi
dan kualitas pribadi anak didiknya. Untuk mencapai hal demikian timbul
pertanyaan, sebenarnya apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru sehingga
anak didik bisa berkembang optimal?
Beragam pertanyaan tadi seraya mengharuskan seorang guru
atau calon guru dapat memiliki motivasi diri. Bukan hanya untuk dirinya sendiri
melainkan untuk semua pihak baik intern maupun ekstern. Apalagi dalam proses
pengajaran hal itu sangat penting untuk memompa dan mengarahkan anak didik
dalam pengembangan dirinya, harus ke arah manakah ia? Atau harus bagaimanakah
ia? Dengan memiliki motivasi diri seorang guru akan lebih mudah menyampaikan
apa saja materi yang disampaikan karena sebelumnya peserta didik sudah memiliki
pandangan langkah dari proses motivasi guru tersebut.
3
2.3 Motivasi Guru dalam Pembelajaran
Motivasi merupakan salah satu faktor yang dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran, karena peserta didik akan belajar dengan
sungguh-sungguh apabila memiliki motivasi yang tinggi. Oleh karena itu, untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus mampu membangkitkan motivasi
belajar peserta didik.
Teori Motivasi dari Maslow.
Kebutuhan dasar yang dikatakan Maslow sebagai bertata
jenjang (hierarki) dilukiskan seperti di bawah ini.
·
Kebutuhan untuk aktualisasi diri
·
Kebutuhan untuk dihargai
·
Kebutuhan untuk diakui
·
Kebutuhan akan rasa aman
·
Kebutuhan psikologis
Dalam
Hubungannya dengan peningkatan pembelajaran, teori Maslaw ini dapat digunakan
sebagai pegangan untuk melihat dan mengerti mengapa:
a.
Peserta didik yang lapar, sakit atau
kondisi fisiknya tidak baik tidak memiliki gairah untuk belajar.
b.
Peserta didik lebih senang dalam
suasana yang menyenangkan.
c.
Peserta didik yang merasa disenangi,
diterima oleh teman atau kelompoknya akan memiliki minat belajar yang lebih
dibanding peserta didik yang dikucilkan atau di abaikan.
d.
Keinginan peserta didik satu dengan
yang lainnya untuk mengetahui dan memahami sesuatu tidak selalu sama.
Peran
motivasi guru:
1.
Membangkitkan Nafsu belajar
Berdasarkan teori motivasi di atas terdapat beberapa
prinsip yang dapat diterapkan untuk meningkatkan nafsu belajar peserta didik.
Antara lain:
a.
Peserta didik akan lebih giat
belajar apabila topik yang dipelajarinya menarik, dan berguna bagi dirinya.
4
b.
Tujuan pembelajaran harus disusun
dengan jelas dan diinformasikan kepada peserta didik sehingga mereka mengetahui
tujuan pembelajarannya.
c.
Peserta didik harus selalu
diberitahu tentang kompetensi dan hasil belajarnya, agar ada perubahan dalam
proses belajar yang mereka lakukan.
d.
Pemberian pujian dan hadiah lebih
baik dari pada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan untuk
membentuk jiwa dan kedisiplinan diri.
e.
Manfaatkan sikap, cita-cita, rasa
ingin tahu, dan ambisi peserta didik.
f.
Usahakan untuk memperhatikan
perbedaan individual peserta didik.
g.
Usahakan untuk memenuhi kebutuhan
peserta didik tersebut.
Dede suryadi
mengemukakan ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar dapat membangkitkan
motivasi belajar adalah sebagai berikut:
1)
Memperjelas tujuan yang ingin
dicapai
2)
Membangkitkan minat siswa
3)
Menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan
4)
Memberi pujian yang wajar terhadap
keberhasilan siswa
5)
Memberikan penilaian yang positif
6)
Memberi komentar tentang hasil kerja
siswa
7)
Menciptakan persaingan dan kerjasama
2.
Sebagai Pemacu
Sebagai pemacu belajar guru harus mampu melipat
andakan kemampuan peserta didik dan mengembangkan sesuai dengan aspirasi dan
cita-cita mereka. Guru harus memahami bahwa setiap orang memerlukan bantuan
orang lain dalam perkembangannya tidak terkecuali peserta didik yang memerlukan
bantuan.
Guru jua harus berpacu dalam pembelajaran, dengan
memberikan kemudahan belajar bagi semua peserta didik, agar dapat mengembangan
potensinya secara optimal. Dalam hal ini guru harus kreatif, profesional, dan
menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut:
a)
Orang tua yang penuh kasih sayang
pada anak didiknya.
b)
Teman, tempat mengadu, dan
mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
c)
Fasilisator yang selalu memberikan
kemudahan dan melayani peserta didik sesuai minat, kemauan, dan bakat.
d)
Memberikan sumbangan pikiran kepada
orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan
sulusi pemecahan.
5
e)
Memupuk rasa percaya diri, berani,
dan tanggung jawab.
f)
Membiasakan peserta didik untuk
saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
g)
Mengembangkan proses sosialisasi
yang wajar antar peserta didik, orang lain dan lingkungannya.
h)
Mengembangkan kreatifitas.
i)
Menjadi pembantu ketika diperlukan.
3.
Sebagai Pemberi Inspirasi
Sebagai pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu
memerankan diri dan memberikan inspirasi bagi peserta didik, sehingga kegiatan
belajar dan pembelajaran dapat membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan
ide-ide baru.
Untuk itu guru harus mampu menciptakan lingkungan
sekolah yang aman, nyaman dan tertib, optimisme dan harapan yang tinggi dari
seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang terpusat
pada peserta didik, agar dapat memberikan inspirasi, membangkitkan nafsu,
gairah dan semangat belajar. Iklim belajar yang kondusif merupakan faktor
pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses belajar.
Lingkungan yang kondusif antara lain dapat dikembangkan melalui berbagai layanan
dan kegiatan sebagai berikut:
a.
Memberikan pilihan bagi peserta
didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran.
b.
Memberikan pembelajaran remedial
bagi peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah.
c.
Mengembangkan organisasi kelas yang
efektif, menarik, nyaman dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta
didik secara optimal.
d.
Menciptakan kerjasama saling
menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru
dan pengelola pembelajaran lain.
e.
Melibatkan peserta didik dalam
proses perencanaan belajar dan pembelajaran.
f.
Mengembangkan proses pembelajaran
sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru
lebih banyak bertindak sebagai fasilitator, dan sebagai sumber belajar.
g.
Mengembangkan sistem evaluasi
belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri sendiri.
6
Sebagai pemberi inspirasi, guru juga
dapat memerankan dirinya sebagai pembawa ceritera. Dengan ceritera-ceritera
yang menarik diharapkan dapat membangkitkan berbagai inspirasi peserta didik.
Sebagai
pendengar, peserta didik dapat mengidentifikasi watak-watak pelaku yang ada
dalam ceritera, dapat secara objektif menganalisa, menilai manusia,
kejadian-kejadian dan pikiran-pikiran.
7
2.4
Guru, Siswa,
Serta Motivasi dalam Pembelajaran
Motivasi belajar yang tinggi dapat
membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan
tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan motivasi belajar
perlu memperhatikan beberapa hal, yakni:
A.
Faktor internal, yaitu
kondisi (situasi) yang ada di dalam diri siswa itu sendiri, misalnya
kesehatannya, keamanannya, ketentramannya, siswa dapat belajar dengan baik
apabila kebutuhan primer manusia yang harus dipenuhi, yakni:
(1) Kebutuhan
fisiologis, yaitu kebutuhan jasmani manusia misalnya,(2) kebutuhan akan makan,
minum, tidur, istirahat dan kesehatan,(3) Kebutuhan akan keamanan. Manusia
membutuhkan ketentraman dan keamanan jiwa ,(4) Kebutuhan akan kebersamaan dan
cinta. Manusia dalam hidup membutuhkan kasih sayang dari orang tua, saudara dan
teman-teman yang lain, (5). Kebutuhan akan status (misalnya keinginan akan
keberhasilan), (6) Kebutuhan self actualization. Belajar yang efektif dapat
diciptakan(7) ntuk memenuhi kebutuhan sendiri, image seseorang, (8) Kebutuhan
untuk mengetahui dan mengerti yaiyu kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu,
mendapatkan pengetahuan, informasi, dan untuk mengerti sesuatu, (9) Kebutuhan
estetik yaitu kebutuhan yang dimanifestasikan sebagai kebutuhan akan
ketentraman, keseimbangan dan kelengkapan dari suau tindakan.
B.
Faktor Eksternal, yaitu kondisi
yang ada diluar diri pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan,
serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Untuk dapat belajar yang efektif
diperlukan lingkungan fisik yang baik dan teratur, misalnya: ruang belajar
harus bersih,ruangan cukup terang,cukup sarana yang diperlukan untuk belajar.Dalam
belajar memerlukan pula keterampilan-keterampilan tertentu yaitu
persiapan, sikap reseptif, penyesuaian terhadap guru, meningkatkan daya
konsetrasi belajar:
1)
Persiapan bila dikaji mata
pelajaran dengan persiapan yang baik, maka hasilnya akan efektif.
2)
Memiliki sifat reseptif, hal yang
kecil tetapi penting diingat ialah usaha memperoleh suasana hati yang wajar
guna mendengarkan dan belajar. Bila anda suka duduk pada tempat tertentu dalam
kelas pilihlah sesuai hati. Bila ada bahan-bahan tertentu yang harus di bawa ke
dalam kelas, disiapkan lebih dini sehingga dapat terhindar dari kejengkelan di
kelas karena kurang siap. Berusaha untuk selalu mempersiapkan alat tulis
menulis. Bila siswa memasuki kelas yang telah diatur sebelumnya, bersikap
resefif dan tidak bersikap menyerang, dengan memperhatikan mata pelajaran dan
cara penyajiannya. Bersikap reseptif berarti menerima keadaan dari pihak yang
dihadapi sebagaimana adanya, keadaan atau pihak yang tidak disetujui, nanti
ditanggapi atau dikritik pada waktu dan tempat yang telah ditentukan sesuai
aturan yang berlaku. Proses belajar yang efektif akan dicapai kalau
mendengarkan secara efektif.
8
3)
Penyajiannnya terhadap guru, yaitu
bila guru tergolong rendah suaranya dan siswa mengalami kesulitan
mendengarkannya, amak pada saat itu senantiasa mencoba mencari tempat duduk
yang dekat pada guru, sekalipun tidak mungkin seluruh kelas mendapat tempat duduk
pada barisan depan.Meningkatkan daya konsentrasi belajar, yaitu hubungan antar
mata pelajaran dapat diperluas, mungkin dapat dipusatkan kepada salah satu
pusat minat, sehingga siswa yang memperoleh pengetahuan secara luas dan
mendalam. Siswa melihat pula hubungan pelajaran yang satu dengan yang lainnya.
Perencanaan bersama guru dan siswa membangkitkan minat siswa untuk belajar. Di
dalam konsentrasi pelajaran banyak mengandung situasi yang problematik,
sehingga dengan metode pemecahan soal siswa yang terlatih memecahkan soal
sendiri. Pelajaran yang saling berhubungan merupakan suatu kesatuan pelajaran
yang bulat, tidak terpisah-pisahkan. Pertumbuhan siswa dapat berkembang dengan
baik, siswa tidak merasa dipaksa untuk belajar membaca, berhitung dan sebagainya.
Usaha konsentrasi pelajaran menyebabkan siswa memperoleh pengalaman langsung,
mengamati sendiri, meneliti sendiri untuk menyusun dan menyimpulkan pengetahuan
itu sendiri. Dalam situasi belajar siswa nampak pula kelompok sosialisasi, pada
proses belajar siswa melatih bekerjasama dalam kelompok berdiskusi. Mereka
bertanggung jawab bersama dalam proses memecahkan masalah. Timbulnya
pertanyaan, saran dan komentar mendorong mereka untuk berpikir lebih lanjut,
dan berusaha memperbaiki kekurangannya. Selanjutnya fasilitas sosial. seseorang
akan lebih baik melakukan tugasnya bila ia melakukannya dalam kelompok dengan
orang-orang yang bersamaan tugasnya. Bekerja secara kelompok semacam itu,
timbul kecenderungan mencapai kecepatan belajar yang lebih besar, menimbulkan
kesungguhan bekerja, dan menghasilkan ketelitian bekerja. Jadi guru tidak perlu
memberi suatu dorongan yang dibutuhkan siswa, tetapi berikanlah masalah dan
berikan cara untuk pemecahan masalahnya.
Selanjutnya
kelompok demokratis. Anggota kelompok yang diorganisir dan diatur dengan
cara-cara demokratis akan memperlihatkan cara dan hasil belajar yang lebih
baik. Kita mendapatkan situasi belajar yang sebaik-baiknya, bila kelompok
manusia yang sedang belajar dan merasakan bahwa mereka berbuat sesuatu berdasarkan
inisiatif dan kehendak sendiri, menerima tanggungjawab bersama, dan ketua
kelompok akan bersikap objektif, menunjukkan penghargaan terhadap manusia dan
individu, serta kehadirannya untuk melihat apakah semua berjalan lancer dan
membantu pelaksanaan pekerjaan yang sedang berjalan, situasi kelas yang
demokratis merupakan unsur yang amat penting dalam organisasi belajar
realistis, demi hasil-hasil belajar autentik. Klasifikasi penggunaan
sosialisasi yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yaitu: Pola
sosialnya ditandai oleh sikap menyerah, fungsi kelompok menjawab
pertanyaan-pertanyaan, Secara khusus mempunyai ciri pada sumbangan anggota
kelompok member saran-saran, Kerjasama fungsi kelompok melaksanakan usaha
bersama sampai selesai. Jadi pelaksanaan sosialisasi yang penting harus
dijalankan ialah perencanaan kooperatif, karena semamgat kerja yang lebih baik
dan menyadari tentang tanggung jawab bersama, dapat meningkatkan hasil belajar
siswa, baik secara individual maupun secara kelompok.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan